Tuesday, 21 October 2014

Giethoorn: Desa Belanda Nan Romantis



Desa Giethoorn
Pada kesempatan kali ini Zoera akan berbagi cerita jalan-jalan ke Giethoorn, Desa terapung di Belanda, yang juga sering disebut dengan "Venice of Netherlands", Desa Giethoorn terletak tepat di tengah-tengah cagar alam De Wieden, Penamaan desa ini dengan nama Giethoorn punya sejarah tersendiri, Desa ini terletak di Kotamadya Steenwijkerlaan , sekitar 5 km sebelah barat daya dari Steenwijk, Provinsi Overijsell.




 
"Desa kecil ini pertama kali dihuni pada tahun 1230 oleh sekelompok pelarian dari wilayah Mediterania. pertama kali mereka tiba di daerah tersebut, mereka melihat jumlah tanduk kambing yang sangat banyak, yang merupakan sisa banjir besar St Elisabeth yang melanda daerah itu pada tahun 1170. Jadi mereka menamakan pemukiman mereka Geytenhorn (tanduk kambing) , tapi dengan perubahan dialek selama bertahun-tahun nama secara bertahap berubah menjadi Giethoorn" (dari berbagai sumber informasi yang di dapat dari google dengan kata kunci: History of Giethoorn)
Daerah ini direkomendasikan ke Zoera oleh teman PPIW (Persatuan Pelajar Indonesia Wageningen), yaitu kakak: Aika Barus, yang hari itu mengkoordinir pembelian tiket grup kereta api untuk weekend, Sekedar Informasi NS ticket group adalah pembelian tiket dengan kuantitas yang banyak yang harganya jauh lebih murah dengan keberangkatan peserta minimal 4 orang dan maksimal 10 orang, Pada waktu itu Zoera masih bingung mau weekendnya kemana, secara Zoera masih 1 bulan di Belanda "ngeles"

Contoh Group Tiket Kereta Api
Untuk sampai ke Giethoorn dari wageningen memakan waktu 2,5 jam, dengan kendaraan Kereta Api hingga kota Zwolle, lalu disambung dengan Bus no 71 hingga bus station berikutnya dan menyambung lagi Bus 70 untuk sampai ke lokasi Giethoorn, benar-benar perjalanan yang cukup panjang, apalagi Zoera jalannya ditemani oleh duo Bidadari, Yang senior ada lah Istri saya tercinta dan yang Junior adalah Buah Hati kami tercinta Stefania Izzati Zoera



Giethoorn mulai populer semenjak Sutradara Bert Haanstra membuat film komedi di lokasi ini, yaitu pada tahun 1958, Film ini berjudul Fanfare, film ini juga yang mempopulerkan nama desa Giethoorn menjadi Venesia dari Belanda, Perahu di desa Giethoorn sangat khas, mesinnya digerakkan oleh motor listrik, sehingga tidak menimbulkan kebisingan, yang menjaga suasana didesa ini tetap senyap dan jauh dari kebisingan, saking senyapnya si mesin kapal, maka kapalnya juga dikenal dengan sebutan "kapal berbisik", jadi teringat iklan salah satu mobil bermesin diesel di Indonesia, #husshh jangan nyebut merek







Desa Giethoorn sendiri adalah daya tarik utama wisatawan untuk berkunjung kesini, di mana suasana nya sangat damai dan santai. rumah-rumah mereka juga berbentuk arsitektur klasik Belanda, dengan atap jerami dan beberapa rumah mereka seperti rumah pertanian abad ke-18 dan ke-19. Di Giethoorn tidak ada jalan mobil atau motor, yang ada hanya jalan setapak untuk pejalan kaki







Oya, di dalam kapal kami ada 7 orang dewasa + Stefania, Kami mendapat kehormatan karena yang menjadi kapten kapal kami adalah ketua PPIW abang Widya Putra, bersama dengan teman bulenya Philipous, dia menuntun kami berlayar menyusuri kanal dengan pemandangan ala pedesaan yang sangat indah, 3 orang lagi adalah teman kapten kami juga yang semuanya adalah alumni ITB yang lagi bersekolah di Belanda dan Belgia, jadinya mereka sekalian reuni di desa yang indah ini



Didesa ini ada sekitar 180 jembatan kecil (menurut oma wikipedia) yang terbuat dari kayu, yang menghubungkan rumah yang berada diseberang kanal, jembatannya hanya sebesar jalan setapak, kanal-kanalnya juga tidak terlalu lebar, memungkinkan untuk 2-3 kapal kecil saja, jika lagi berpapasan.





Rute nya pun dibuat semenarik mungkin setelah menyusuri kanal yang kecil dan sempit kamipun di arahkan untuk ke danau yang cukup luas, bukan danau sih, tepatnya kanal yang luas, sepertinya sih kanal buatan yang berfungsi sebagai daerah resapan air, seperti kanal-kanal lainya yang banyak kita jumpai di Belanda, yang membuat Belanda bebas dari banjir meskipun daratannya lebih rendah dari permukaan laut. Semoga saja Jakarta bisa mengaplikasikan ilmu tata air yang ada disini.

Paviljoen Restaurant, sengaja tidak singgah, takut kantong jebol, wkwkwk

Fania sudah mulai ngantuk, durasi perjalanan kami sudah 1,5 jam

Perumahan di tepi kanal besar

Tidak terasa sudah hampir 2 jam kami berlayar menyusuri kampung yang indah ini. Awalnya Zoera merasa 2 jam adalah waktu yang terlalu lama untuk menyusuri kampung ini, ternyata tidak...kami pun menghabiskan jatah 2 jam kami disini, untuk harga sewa 1 kapal kecil selama 2 jam kami harus membayar sebesar 25 Euro, yang jika dibagi dengan 7 penumpang, masing-masig penumpang dibebankan biaya 3,5 Euro. 

Demikian Report langsung perjalanan Zoera kali ini, berikut Zoera share juga sebuah video dari perjalanan ini semoga bisa memacu semangat sobat-sobat Zoera untuk bisa datang ke Desa nan Indah ini, Salam jalan-Jalan Zoera Tour and Travel.








Related Post:
- Panduan Transportasi dari Schiphol ke Amsterdam
Roermond: Gereja Tua dan Pasar Branded nya
- Video: "Pantai Leonardo di Caprio"
- Review Penginapan Murah di Singapura

- Satu Hari di Singapura Kemana Saja?