Thursday, 18 December 2014

Pengalaman Terbang Pertama Kali ke Eropa (part 4)

Lanjutan cerita dari part 3

Landing di Abudhabi
Saya terbangun oleh suara dari kapten pesawat, dia mengatakan dalam bahasa inggris bahwa kami akan mendarat di Abudhabi Airport (AUH) dalam waktu beberapa menit lagi. Sayangnya kami tidak duduk dekat jendela, padahal saya sangat ingin melihat Kota Dubai, mana tau pesawat kami kami terbang diatas kota Dubai, karena dari aplikasi google maps saya lihat jarak Abu Dhabi dan Dubai itu berdekatan, sehingga bisa melihat Palm Island yang termayshur. Ya Sudahlah mungkin belum rezeki, mudah-mudahan dalam penerbangan kami ke Indonesia nanti kami bisa transit dan holiday semalam di Dubai, Aamiin ya rabb.

Alhamdulillah pesawat kami landing dengan mulus, Good Job Kapten. Saya melihat ke jendela pesawat cuaca sangat cerah, waktu menunjukkan pukul 07.05 pagi waktu Abu Dhabi. Kami segera membereskan tas kabin dan mengikuti antrian keluar pesawat.

Bandara Abudhabi
Setibanya di luar pesawat kami mengikuti sign board yang ada di langit-langit bandara, mereka bertuliskan arab dan inggris. Tibalah kami disebuah ruangan bulat yang cukup besar dengan banyak pintu bernomor. Kami bingung harus kemana, untungnya ada petugas disana, kami melihatkan boarding pass kami yang ke amsterdam, lalu dia menunjukan sebuah pintu, dan mengatakan teruslah telusuri koridor tersebut hingga sampai di ruang tunggu yang ke Amsterdam.

Koridor yang kami lalui ternyata cukup jauh ada sekitar 15 menit berjalan kaki, nah ada spot yang bagus ni buat foto-foto, Jadilah fania sebagai objek foto saya. Bandara Abudhabi (AUH) dari yang kami lewati terlihat biasa saja, atau mungkin akan jadi luar biasa jika kami sampai di ruang tunggu?, kamipun melanjutkan perjalanan, ternyata kami bertemu semacam pertokoan di bandara yang biasa dikenal dengan duty-free shops, membeli barang disini anda tidak akan dikenakan biaya cukai lagi. Keadaan disini pun masih biasa-biasa saja, masih bagusan KLIA2 dan Changi Airport terminal.


si cantik, anteng saja disuruh foto

Sebenarnya saya masih ingin berkeliling-keliling bandara mengingat kami masih punya waktu terbang dua jam lagi, tapi bubu tipe orang yang sangat spare waktu, sehingga dia ngotot untuk duduk dan menunggu di ruang tunggu. Saya pikir bener juga bubu, bagaimana kalau nanti kami lengah dan ketinggalan pesawat, duitnya bisa jadi debu bro.

Ruang Tunggu Abudhabi-Amsterdam
Setiba di ruang tunggu saya pergi ke toilet untuk membasuh muka dan gosok gigi, begitu juga fania dan bubu. Ketika menunggu di ruang tunggu, fania kehausan kami tidak punya stok minuman, jadilah kami membeli air mineral di konter yang ada dekat ruang tunggu harganya lumayan sekitar 3 USD per botol kecil. Setelah beli tuh air, si bubu baru bisa melihat ada kran air minum diruang tunggu, what? ndeso again. Kami seharusnya terbang lagi ke Amsterdam pukul 9.15 waktu Abudhabi, namun jadwalnya delay, tepat pukul 9.30 baru kami dipersilahkan naik bis untuk diantarkan ke pesawatnya

Pintu Ruang Tunggu Penerbangan ke Amsterdam

Kami diantar ke pesawat jenis +Boeing  777-300, tempat duduk di kelas ekonomi berderet 3-4-3. Ini pengalaman kedua saya naik pesawat berbadan lebar, alhamdulillah tuhan memberi kesempatan naik dua pesawat dari pabrikan yang berbeda. Tidak banyak situasi yang berbeda yang kami alami dipesawat ini, dibanding pesawat sebelumnya, yang berbeda hanya tampang pramugarinya yang lebih banyak berwajah noni Belanda.

Etihad B777-300

Selamat datang di Schiphol
Singkat cerita tibalah kami di Bandara Schiphol, setelah melewati perjalanan delapan jam dari Abudhabi. Alhamduillah akhirnya kaki kami menginjak Benua Biru, sudah tidak sabar mata ini ingin melihat keadaan sebenarnya dari benua yang terkenal dengan sistem pemerintahan monarchi nya, apalagi kami bakalan stay di Negara Belanda, negara yang kental hubungannya dengan negara kita diposisi yang sebenarnya tidak enak; menjajah - terjajah.

Gassan, serupa dengan nama kampung kakek saya

Amsterdam Airport Schiphol termasuk bandara yang keren, seperti Changi Airport di Singapura, bersih dan terkesan elegan. kami melewati imigrasi dengan lancar, sedikit pertanyaan dari petugas imigrasi kepada saya, mau ngapain di Belanda, saya jawab saja mau sekolah, dia sangat terkesan dan bilang Wow Great,  lalu menempel pasport saya sambil bilang Good Luck, padahal istri saya yang mau kuliah, hehehe, tapi tidak apa-apa toh saya juga dalam rangka menimba ilmu kebudayaan di negeri ini supaya yang baik-baiknya bisa saya transfer ke Indonesia melalui tulisan, Semoga.

Spot wajib untuk berfoto
The End

Baca juga cerita sebelumnya part 1, part 2, part 3


Related Post:
- Pengalaman pertama kali mendarat di Bandara baru KLIA2, Malaysia
- Panduam ke pusat kota Amsterdam dari Schiphol
- Panduan ke Den Haag dari Schiphol
- Panduan ke Wageningen dari Schiphol