Monday, 5 January 2015

Holiday in Paris, Eiffel Tower: Si Besi Raksasa Yang Mem(p)esona -Part1-

Siapa yang tidak kenal susunan besi tua ini, hampir seluruh masyarakat dunia mengagumi karya seni yang dibalut teknologi ini, karena besi yang dipancang begitu aja tidak akan kelihatan menarik, begitu juga karya seni tanpa teknologi tidak akan membuat Eiffel bisa gagah berdiri dengan kokoh sampai sekarang ini.


tempat duduk ini menunggu kedatangan kami

Ya, Menara Eiffel karya fenomenal dari sang arsitek Gustavo Eiffel sampai detik ini masih menawan pelancong dari seluruh dunia, begitu juga kami yang tinggal di Belanda, bela-belain datang ke Paris, di musim dingin, hanya karena mendengar kabar dari teman yang sudah berada di Paris bahwa suhu udara di Paris lumayan hangat; tujuh hingga sepuluh derajat celsius, jadilah kami di last minute langsung membooking bus dengan rute Amsterdam menuju Paris. Sayangnya bus sudah pada penuh, bahkan bus yang biasanya cuma seharga 19 pounds saja sudah naik menjadi 35 pounds saat ini. Saya coba memberitahu si Bubu, apakah masih minat dengan harga segitu, si Bubu tanpa babibu bilang "Embat saja yah, mumpung dikampus lagi libur, kapan lagi mau ke Parisnya?, kalo hari biasa khawatir bentrok sama jadwal meeting atau jadwal kunjungan laboratorium".

Eiffel in Winter

Yang namanya serba mendadak memang selalu bikin deg-degan dan ada saja hambatanya, tetiba saja dua kartu kredit saya yang biasanya lancar-lancar saja tidak bisa membayar bookingan bus via online, saya panik, begitu juga si Bubu, karena hari ini  sudah tanggal 23 Desember, dan di planning kami akan berangkat esok hari di tanggal 24 Desember dimana saat itu adalah waktu mudiknya orang-orang di Eropa, pantas saja tiket bus murah sudah pada ludes. Ondeh-mandeh booking hostel pun tidak mau, beberapa hostel yang sudah saya tandai jauh-jauh hari juga full booked, apa hendak dikata, hanya bisa istighfar. "Astaghfirullah !!!" ampuni hambamu ini

Saya teringat sebuah peribahasa "Tidak Satu Jalan ke Paris" -maksa banget ya-, saya pun mencari alternatif lain, saya coba searching di Google, ternyata kami bisa membeli tiket bus tersebut via agent travel yang ada di Amsterdam. Saya coba mengirim email, Alhamdulillah langsung dibalas, lalu singkat cerita terjadilah transaksi, tanpa babibu langsung saya transfer, sekarang baru nyadar kenapa saya tanpa berpikir panjang mentransfer uang, padahal kalo di Indonesia pasti akan berpikir seribu kali jika belanja online untuk pertama kali dan bukan di web resmi nya pulak.

Hati saya mulai lega ketika menerima email resmi dari website +Megabus Amsterdam, namun ternyata pekerjaan belum usai, "mau menginap dimana?" karena sampai sekarang booking via situs pembanding hostel yang menjadi langganan saya juga di reject. Kemudian saya coba cari di Google alamat hostel tersebut, Alhamdulillah ketemu, saya pun langsung booking di web resmi hostelnya -namanya +Perfect Hôtel & Hostel-  mengisi semua form online nya, dan memasukan kode ccv saya, lalu tertera di layar websitenya bahwa bookingan saya berhasil. Sujud syukur Pada-Mu ya Allah, "Paris We Are Coming !!!"

Saya teringat dulunya saya pernah mau mengajak salah seorang anak PPI -yang ngefans banget sama Fania- untuk ikut kami liburan natal dan tahun baru ke Paris, tetapi beberapa hari sebelum liburan, kami cancel dan mundurkan ke musim semi, karena takut fania ga tahan dengan udara dingin, Nama nya mas erwin, saking ngefans nya, setiap ketemu mereka pasti berantem, #loh. Si bos erwin -begitu dia minta dipanggil oleh Fania- pun ternyata sudah ngebet banget pengen ke Paris, walaupun dia tahu harga bus nya sudah dua kali lipat dan hostelnya pun mahal, dia tetap setuju untuk berangkat bareng kami.

Fania dan Bos Erwin lagi akur

Singkat cerita malam itu kami sudah di parkiran Bus Amsterdam, sengaja datang satu jam lebih awal agar tidak ketinggalan bus, ternyata cuaca saat itu sangat dingin, waktu menunjukan jam sepuluh malam, angin khas belanda berhembus sangat kencang, sebenarnya kami dan fania itu tahan dengan udara nol derajat celsius, namun karena anginnya kencang suhu itu serasa melorot drastis menjadi minus sepuluh derajat celsius, benar-bener menusuk hingga ke kulit muka, karena hanya bagian itu saja yang belum tertutup dari badan kami, kami hanya berdoa semoga cuaca di Paris akan baik-baik saja.

Narsis sebelum berangkat


Terminal Bus Megabus
Bus tepat berangkat jam sebelas malam, benar-benar ontime sesuai jadwal. Ada hal baru yang saya temui disini, di terminal bus ini serasa tidak seperti terminal aja, cuma ada tiga bus yang parkir disana, tidak ada konter penjualan tiket, semua calon penumpang yang datang sudah membawa print-an tiket online dari rumah masing-masing, dan tidak ada petugas konter check-in, si supir melakukan pekerjaan rangkap sebagai petugas check-in, benar-benar efisien, cocok dengan jumlah penduduk Belanda yang tidak banyak, jadi semua pekerjaan dirangkum jadi satu, kalo diterapkan di Indonesia, kasian yang kerjanya jadi admin PO Bus.

Bersambung.., ke part 2



Related Post