Tuesday, 6 January 2015

Holiday in Paris, Eiffel Tower: Si Besi Raksasa Yang Mem(p)esona -Tamat-

Lanjutan dari Part 1

Kami duduk tepat dibagian depan lantai dua bus double decker ini, sengaja ambil tempat duduk di depan karena ingin merasakan sensasi  seperti di film Titanic. sayang nya tidak sukses terwujud karena malam hari, langit gelap, dan mata pun mengantuk.


Menuju sebuah kota yang kita mimpikan sejak lama ternyata berpengaruh terhadap psikologi kita selama di bus, saya tidak  bisa tidur nyenyak, sepanjang perjalanan saya sering terjaga, apalagi ketika bus kami sudah melewati Kota Brussel dan mulai memasuki kota Paris, mata saya on terus, tidak sabar menunggu Eiffel Tower itu kelihatan, meski itu cuma puncaknya aja. Sayangnya hingga saya tiba di perhentian bus Porte Mailot Paris, si menara ini enggan untuk sekedar menampakan sekilas wajahnya kepada saya.

Setibanya di Porte Maillot Coach Park, kami langsung menuju stasiun metro Charles de Gaulle-Etoile, berangkat menuju stasiun Anvers, stasiun terdekat dari lokasi hostel yang akan kami tuju. Namanya Perfect Hostel berlokasi di area montmartre yangmana lokasi ini juga dekat dengan tiga spot kunjungan favorit turis, Sobat Zoera bisa baca review hostelnya disini. Kami sebentar saja di hostel ini, hanya menitipkan bagasi untuk melanjutkan lagi berkeliling Paris. Namun setiba disana hari masih gelap, jadilah kami menunggu sebentar di restorannya hingga pagi menjelang, Oya kami juga sempat shalat subuh dulu di ruangan penitipan barang nya.

Ketika Matahari sudah mulai muncul, kami pun mulai melanjutkan perjalanan, dan tentu saja yang berada di puncak dari list itinerary kami adalah mengunjungi menara eiffel. tapi ternyata Tuhan berkata lain, kami seperti dituntun untuk menuju lokasi Arc de Triomphe terlebih dahulu, dikarenakan untuk menuju Eiffel kami harus transit lagi di stasiun Charles de Gaulle-Etoile, ternyata Arc de Triomphe berlokasi di stasiun ini. Jadilah kami menikmati dulu monumen kebanggaan masyarakat Prancis ini, untuk ceritanya bisa dibaca disini.

Aplikasi Googlemaps

Puas berfoto-foto di Arc de Triomphe kami melanjutkan perjalanan dari stasiun metro Charles De Gaulle-Etoile menuju stasiun metro Bir-Hakeim, stasiun terdekat dengan menara eiffel. Keluar dari stasiun ini terlihat lah menara eiffel dengan gagahnya, namun masih terhalang beberapa bangunan, saya pun tidak sabar untuk menuju ke taman nya, Namun kami tetap waspada teringat beberapa cerita teman yang pernah kecopetan dikawasan ini.

Santai sejenak, mumpung belum ramai

Sejarah Menara Eiffel
Saya dulunya tipe orang yang tidak terlalu suka sama pelajaran sejarah hingga saya bertemu guru sejarah ketika SMP, caranya mengajar membuat saya jatuh hati kepada ilmu sejarah. Bicara sejarah menara eiffel maka kita akan tahu mengapa sampai sekarang karya seni ini menjadi magnet bagi turis diseluruh dunia. Ya, arsitektur ini tidak serta merta aja berproses dan berdiri di Paris, banyak sekali hambatan untuk mendirikan menara ini, namun karena kejeniusan sang arsitek, hingga sekarang ini menara eiffel menjadi andalan Kota Paris untuk menarik wisatawan.

Penampakan level 2 dari kaki Menara Eiffel


Awalnya desain ini ditawarkan oleh sang arsitek ke Pemerintahan Kota Barcelona sebagai pintu masuk Pameran Universal yang akan diselenggarakan pada Tahun 1888, namun pihak yang bertanggung jawab di Balaikota Barcelona menganggapnya aneh dan mahal. Sang Arsitek tidak menyerah dia menyodorkan penawaran nya ke Pemerintahan Kota Paris untuk Pameran Universal Tahun 1889 di Paris. Strukturnya mulai dibangun tahun 1887 dan selesai di tahun 1889, Pada tanggal 31 Maret 1889 Menara Eiffel diresmikan dan diakui sebagai menara tertinggi didunia.

Narsis di kaki Menara Eiffel


Dalam proses pembangunannya menara ini dibanjiri kritik oleh warga dan masyarakat pecinta seni di Kota Paris, mereka menganggapnya sebagai bayangan hitam yang mengganggu pandangan, apalagi dibuat dari besi yang disambung mengunakan berjuta-juta paku. Mereka mengkritik desain ini sebagai karya yang tidak berseni. Namun sang arsitek menjelaskan dalam sebuah wawancara seperti foto yang saya ambil dari laman wikipedia:



Bayangkan jika waktu itu Pemerintah Kota Paris tidak menyetujui dibangunnya menara ini, mungkin saya dan turis di dunia lainya tidak akan pernah melihat karya fenomenal ini yang bahkan hingga tahun 2014 masih berdiri dengan kokoh nya, sekali lagi saya salut dengan kejeniusan sang Arsitek Gustave Eiffel. bahkan karya fenomenal ini semulanya hanya dizinkan berdiri selama 20 tahun di Paris, yang artinya di tahun 1909 bangunan ini harus sudah di rubuhkan lagi. Namun karena Pemerintah Kota Paris merasakan manfaat yang lebih dari keberadaan bangunan ini, maka hingga sekarang masih dipertahankan.

Dari atas menara Eiffel kita bisa melihat seluruh kota Paris, karena Eiffel masih menjadi satu-satunya bangunan yang tertinggi di Kota Paris, namun untuk bisa naik ke atas kita harus siap mengikuti antrian yang panjang mengular. Melihat panjangnya antrian membuat saya mengurungkan niat untuk naik ke atas.

Antrian yang mengular hingga ke jalan

Pengalaman menarik di Eiffel
Ada yang menarik di sekitar menara Eiffel yaitu penjaja sovenir nya, mereka bisa berbahasa Indonesia, jangan kaget jika tidak henti-hentinya sobat Zoera mendengar teriakan "lima satu euro-lima satu euro!", "murah saja!", "sangat murah!", bahkan beberapa dari mereka yang coba saya tawar dagangannya dalam bahasa Indonesia ada yang mengerti, "Amazing !", mereka mayoritas berasal dari ras Afrika, itu terlihat dari bentuk wajah dan warna kulitnya.

Pengunjungnya pun juga begitu walaupun di Paris lagi winter yang sebenarnya tidak bersahabat bagi turis yang berasal dari negara beriklim tropis seperti Indonesia, namun saya menemui banyak sekali wajah Indonesia, tidak dalam hitungan jari, mereka bahkan ada ratusan, mayoritas ikut dalam rombongan tour and travel. Berada di Eiffel saat itu berasa Eiffelnya dipindahkan ke Indonesia, namun tidak dengan suhu nya, Oh No, Saya mendadak kangen suhu di Indonesia.


-Tamat-



Related Post: 
-Arc de Triomphe: Gerbang Kota Sambut Kemenangan
-Paris Perfect Hostel: Hostel yang dipilihkan Tuhan untuk kami
-Panduan Keliling Paris dengan Metro