Tuesday, 3 February 2015

Koln: Romantisme Jembatan Cinta berlatar Kathedral Roma

Perjalanan ke Koln bukanlah dalam rangka backpacking, melainkan perjalanan ala tour and travel. bedanya walaupun perjalananya ala tour and travel namun budget nya ala backpackeran, kurang senang apa coba, hehehe

Perjalanan kami di arrange oleh rekan-rekan mahasiswa Belanda yag tergabung dalam wadah Persatuan Pelajar Indonesia (PPI), dengan menyewa dua bus, perjalanan ini berhasil menarik minat lebih kurang 100 orang anggota PPI di Belanda.


Bus yang membawa kami berangkat dari Utrecht ke Koln jam 10 pagi, jangan bayangkan itu terlalu siang karena di saat winter begini, itu beneran pagi karena matahari baru muncul jam 9. Bagi kami yang pejalan keluarga berangkat di saat pagi itu agak susah, apalagi kami berlokasi di Ede-wageningen, yang mana butuh 30 menit dengan train untuk sampai ke meeting point di Utrecht.

Fania terbiasa bangun jam sembilan pagi, tapi kali ini jam tujuh pagi si bubu sudah membangunkannya, walaupun dengan resiko akan bersusah payah memandikannya, karena kalo dia dibangunkan biasanya akan rewel dan tidak mau disuruh apa-apa, maka memandikannya pun harus dengan sangat sabar sambil dibujuk-bujuk.

Jam setengah sembilan dengan pakaian winter lengkap, kami meninggalkan rumah, mengayuh sepeda lima menit ke stasiun kereta api ede-stasiun, disana sudah menunggu sepuluh rekan-rekan PPI Wageningen untuk berangkat bareng menuju ke Stasiun Utrecht Centraal. 

Setibanya di stasiun Utrecht kami langsung menuju stasiun bus yang terletak persis di sebelah nya, disana sudah menunggu rekan-rekan panitia perjalanan, kami pun langsung mendaftar ulang untuk konfirmasi keberangkatan.


Pemandangan dari jendela Bus


Perjalanan dengan bus melintasi beberapa kota di Belanda dan Jerman benar-benar mengasyikkan, pemandangan yang indah, banyak padang rumput yang luas dengan sekawanan biri-biri dan kuda yang sedang merumput, apalagi ini perjalanan pertama kami ke Jerman, tentunya sangat excited dan penasaran dengan bentang alam Jerman. Ketika bus memasuki perbatasan Belanda-Jerman tidak terlihat border yang mencolok, hanya seperti jalanan biasa saja, tetiba supirnya mengumumkan "Welcome to Germany!", riuh rendah penumpang berteriak termasuk kami, hehehe. We made it !, agak lebay ya, karena Jerman salah satu negara impian kami.

Durasi perjalanan sudah dua jam tiga puluh menit yang artinya sebentar lagi bus kami akan memasuki kota Koln, hawa perkotaan pun sudah mulai terasa, pertokoan dan perumahan sudah tampak ramai, kami melihat sebuah gereja ortodoks dalam ukuran yang kecil, dari desainya gereja ini terlihat seperti masjid kecil atau mushala, ingatan saya langsung menuju gereja ortodok di Rusia yang menjadi ikon pariwisata disana, salah satu dream destination kami juga.

Namun yang paling terkenal di kota Koln bukanlah gereja ortodoks, melainkan gereja katolik bernuansa romawi yang pernah mendapatkan gelar sebagai bangunan teringgi di dunia selama empat tahun (1880-1884), gereja ini dikenal sebagai High Cathedral of Saints Peter and Mary atau Cologne Cathedral. Dari kejauhan saya mulai melihat menaranya yang tinggi. "Yeay, kami sudah hampir sampai !" tidak sabar rasanya ingin segera turun dan mengambil foto, mengabadikan setiap detail bangunan nya, walaupun sudah berkali-kali melihatnya di Internet, namun masih belum puas, kali ini saya ingin langsung menatap nya dengan mata telanjang tanpa sehelai benangpun #eh.



Pusat kota Koln, dengan  latar stasiun kereta api dan menara cologne cathedral

Akhirnya bus kami tepat berhenti di depan Katedral, dari kejauhan keliatan kerumunan pengunjung mengelilingi katedral, sangat ramai, kami mulai turun satu persatu, digiring oleh panitia menuju sebuah titik di samping Katedral, ternyata banyak dari rombongan kami yang ingin buang air kecil termasuk si bubu. cukup lama menunggu mereka selesai, inilah salah satu kekurangan jika berjalan berombongan, lebih banyak menunggu nya, but its okay!.

Si bubu melaporkan dari TKP kalo antrian toiletnya sangat panjang, memang saat itu kota Koln padat merayap, apalagi hari ini adalah matchday atau hari bertandingnya klub sepakbola Koln, (yah kurang lebih seperti PSPS bertandinglah, yang membuat jalanan Pekanbaru bisa macet hingga satu kilometer) dan toilet umum hanya bisa ditemukan di stasiun di samping katedral, jangan pikir gratis, kebanyakan toilet umum di Belanda dan Jerman berbayar.

Setelah semua rombongan terkumpul lagi, kami dibagi panitia kedalam kelompok kecil berisi sepuluh orang, dan dipimpin satu orang panitia dengan membawa bendera, oleh ketua rombongan kami disuruh berbaris, saling mengingat teman rombongan agar tidak tersesat. saya hanya tersenyum teringat ketika backpacking sering tersesat dan saya menikmati ketersesatan itu #eh.


Ekterior katedral yang detail dan indah

Ternyata di Katedral cuma meeting point kita langsung digiring berbaris melewati kerumunan wisatawan sekitar Katedral, digiring menuju sungai Rheine yang termasyhur di kota ini, lokasinya berada  tepat di belakang Kathedral melewati sebuah pasar natal, ya pasar ini juga menjadi penyebab membludaknya wisatawa disini, pasar ini salah satu pasar natal terbesar di Eropa.

Selesai melewati pasar natal kami melihat hamparan sungai rhine yang tenang, yang membelah kota koln menjadi dua bagian, pemandangan di daerah seberang sangat indah, bangunan-bangunan tua , menara gereja, pertokoan dan permukiman terlihat cukup padat, menunjukkan kalo memang populasi dikota ini termasuk dalam kota ke-empat terpadat di jeman, namun koln bukanlah kota metropolitan seperti jakarta dan surabaya, gedung-gedung tinggi bisa dihitung dengan jari.

Hohenzollern Bridge dan Patung Kaiser Wilhelm II



Asik berjalan menyusuri sungai rhine, mata kami menemukan jembatan berlengkung tiga, jembatan yang indah, uniknya yang melewati jembatan ini bukanlah mobil dan motor namun kereta api, kami pun digiring ketua rombongan untuk naik tangga menuju keatas jembatan. Jembatan ini bernama Hohenzollern, dibangun tahun 1907-1911 setelah jembatan sebelumnya dihancurkan karena tidak bisa lagi menampung padatnya lalu lintas kereta api. Jembatan ini diresmikan pada tanggal 22 mei 1911 oleh Kaiser Wilhelm II, jembatan ini didesain oleh Friedrich Dirksen, dan dikerjakan dibawah pengawasan insinyur Fritz Beer.

Keindahan struktur jembatan yang menghubungkan dua daratan yang terpisah oleh sungai Rhine ditambah dengan kesibukan kereta api yang lalu-lalang diatasnya memberi kesan romantis bagi pengunjungnya, sehingga banyak yang menggantungkan gembok cinta di jembatan ini. gembok itu seakan-akan menjadi bukti keabadian cinta mereka.

Menariknya gembok-gembok itu ternyata beraneka ragam, ada yang berbentuk hati berbentuk bunga yang berwarna-warni, selain itu juga bisa di temukan satu gembok besar dengan beberapa gembok kecil yang menempel, saya bisa menterjemahkan itu pastinya gembok persahabatan, atau ada kemungkinan itu gembok playboy.





Bersambung ke Part 2