Wednesday, 4 February 2015

Koln: Romantisme Jembatan Cinta berlatar Kathedral Roma (tamat)


Lanjutan dari Part 1

semua pengunjung seakan berlomba-lomba mengambil foto berlatar gembok cinta, begitupun kami, namun harus antri karena yang mau berfoto sangat banyak, untuk menghindari antrian sebagian rombongan berfoto disisi terjauh jembatan. Kami memilih untuk antri karena capek harus menggendong fania yang entah kenapa kali ini tidak mau duduk di Stroller.

Cuaca terasa semakin dingin, beberapa teman rombongan membenarkan yang kami rasakan, hal ini disebabkan karena angin yang berhembus kencang, sama seperti angin di Belanda, kencangnya hembusan angin bisa membuat suhu semakin turun. Hal ini ternyata yang menyebabkan fania semakin rewel, dia tidak mau berfoto, minta terus-terusan digendong, padahal saya ingin sekali mengabadikan lokasi disini dengan angle yang bervariasi.


Fania rewel
Semakin lama di jembatan itu semakin dingin, angin tiada hentinya bertiup, beberapa teman satu rombongan bahkan ada yang kakinya sudah kedinginan, untungnya saya dan si bubu pakai kaos kaki tebal militer yang kami beli sebelum berangkat ke Belanda. Kami pun menyudahi sesi foto-foto di jembatan, kami digiring kembali ke katedral, disana kami dibubarkan diberi waktu bebas untuk masuk katedral atau shopping di pasar natal yang ada di sebelah Katedral, dan tidak lupa diingatkan untuk berkumpul lagi jam enam malam di depan katedral.

Saya dan si bubu memilih masuk kedalam katedral agar bisa dapat suhu yang lebih hangat, kasian fania jarang-jarang dia rewel pas travelling, mungkin dia sangat kedinginan. Antrian pengunjung masih panjang di pintu masuk katedral, tidak lama kemudian kami pun masuk ke dalam katedral, ternyata tidak dikenakan biaya masuk, petugas pintu masuk memberi kode agar saya melepaskan penutup kepala, sedangkan sibubu yang berjilbab tidak disuruh, hmmm jadi begini ya aturan masuk katedral. Sorry Mr, This is my first experience.

Wow ternyata interior di dalam katedral tidak kalah indahnya dengan ekteriornya yang gotik dan sangat detail. Saya tercengang-tercengang, kelihatan udik, karena memang tiga bulan di Belanda saya belum pernah masuk ke dalam katedral. Saya izin ke si bubu untuk mengabadikan keindahan interior didalamnya, sementara si bubu memilih duduk di bangku pengunjung. Saya pun menemukan mosaik di jendela-jendela katedral, mosaik yang indah yang disusun menjadi sebuah lukisan yang bercerita tentang agama katolik.





Puas mengabadikan interior katedral saya balik ke lokasi si bubu dan fania, ternyata fania sudah tidak rewel lagi, dia asyik bermain-main sambil disuapin si bubu, lalu saya bertanya ke sibubu, "Dimanakah kita shalat?, sebentar lagi waktu ashar mau habis", sibubu bilang "Shalat disini aja yah, saya tadi sudah shalat disini". "shalat disini? di katedral?" saya seakan tidak percaya, "Gimana caranya bubu tadi shalat?" "Shalat duduk aja disini, kalau keluar sudah tidak mungkin, udaranya sangat dingin, sementara bus kita juga sudah tidak ada dilokasi, mau shalat disudut stasiun kereta juga tidak mungkin, ramenya ampun-ampunan, untuk masuk saja berdesak-desakan". Hmm benar juga pikir saya, sayapun duduk dan shalat di dalam kathedral, satu-satunya tempat terhangat saat ini dan tidak terlalu rame seperti distasiun, Ampuni kami ya Allah, kami hanya tidak mau meninggalkan perintahmu yang istimewa ini yang jika kami tinggalkan kami tidak akan bisa menggantinya.

Setelah selesai shalat, saya mengajak sibubu ke stasiun kereta api yang berada disebelah Katedral, benar saja orang-orang masih ramai di stasiun tersebut, ibarat stasiun gambir dikala mau lebaran, sangat padat, karena sebentar lagi masyarakat eropa akan merayakan hari raya natal. Saya penasaran dengan stasiun kereta api di Jerman, apakah sama dengan stasiun kereta api di Belanda? Let's check it out!







Keasyikan keliling stasiun kereta api, kami lupa kalau waktu sudah menunjukan jam 6 malam, kami sudah harus kembali menuju meeting point di depan katedral terlihat juga teman-teman lain berlari menuju meeting point, takut terlambat suatu kebiasaan baru yang akan kami bawa nanti hingga pulang ke Indonesia. Namun masih saja banyak yang belum berkumpul di meeting point, kami yang ontime terpaksa harus menunggu mereka, padahal diluar ini sangat dingin sekali, fania mulai tampak rewel, saya dan sibubu kembali merapat ke gedung pertokoan yang ada dekat meeting point, sebelumnya sudah minta izin dulu ke ketua rombongan, takut nanti malah dicariin.

Setelah rombongan lengkap dari depan katedral kami berjalan menuju shuttle bus, lalu bus tersebut membawa kami menuju lokasi parkir bus kami. Jarak dari shutlle bus ke parkiran bus lumayan jauh, sepuluh menit perjalanan, sesampai diparkiran bus, kami pun masih belum bisa masuk kedalam bus, bus masih terparkir didalam dan harus keluar dulu, udara kota Koln semakin dingin, untuk menghangatkan badan, rombongan berkumpul merapat, yang sudah kedinginan, masuk ketengah kerumunan untuk menghindari tiupan angin yang membawa suhu sedingin es. Finally bus keluar dari parkiran dan kamipun bergegas masuk, selesai sudah perjalanan pertama kami ke Jerman, kami capek dan terlelap di bus hingga ke Belanda.

Tamat

Related Post:

-Holiday in Paris: Eiffel
-Giethorn, Desa Belanda nan Indah
-Madurodam, Sensasi menjadi raksasa di negeri liliput
-Roermond: Gereja, bangunan kuno dan pasar branded