Wednesday, 18 February 2015

Makan Malam Sang Jendral, (obrolan di Taksi)

Salah satu manfaat travelling adalah mengenal budaya daerah yang kita kunjungi, pada cerita kali ini saya tidak akan bercerita tentang luar negeri, tapi negeri saya sendiri yaitu Jakarta, Ibukota Republik Indonesia. Ya bagi saya travelling di Jakarta itu sungguh menarik saya pernah tidak sengaja ngekos tiga hari di daerah kumuh tanah abang, karena saya sudah tidak menemukan lagi penginapan, semua penginapan di tanah abang ternyata full diisi bukan saja oleh pedagang yang datang dari berbagai provinsi di Indonesia tetapi juga oleh pedagang dari India, Asia Timur bahkan Afrika, itu saya ketahui ketika mengintip buku daftar tamu dari sebuah penginapan yang saya kunjungi.

Sejak bekerja di MKU Pekanbaru saya sekurang-kurangnya akan diundang satu kali dalam setahun ke kantor pusat untuk training dan meeting, dan biasanya saya akan melebihkan stay dua atau tiga hari untuk sekedar mengenal Jakarta lebih jauh, sebagai ibukota negara tentu saja Jakarta banyak dihuni oleh pejabat-pejabat negara dengan penghasilan selangit..

Dalam perjalanan dengan taksi ke bandara, saya bertemu supir taksi yang seperti nya tertarik mengetahui tentang pribadi saya, dia belum tahu aja kalo saya termasuk pendengar yang baik, maka tatkala supir taksi itu mulai mengajak saya bicara, justru dialah yang akhirnya banyak bicara, kena’ lo

Dia bercerita kalo jadi supir taksi adalah sampingan nya, bisnis utama dia adalah jualan bunga hias, yang dikelola oleh saudaranya, saya surprise ketika dia bilang omset nya sehari itu bisa ratusan juta, ternyata pelanggannya adalah kalangan atas, dia kenal baik jenderal-jenderal yang sedang menjabat, dan dia cerita pernah dapat orderan bunga 90 juta untuk makan malam seorang jenderal.

“Apa? 90 juta?” mata saya melotot, gigi saya hampir sukses melarikan diri, “itu bunga untuk makan malam keluarga atau pesta makan malam dengan mengundang banyak orang?”, saya serius nanya, hanya untuk memastikan lagi, Dia tersenyum, sambil berkata "itu cuma untuk makan malam Mas", "kebetulan ibu mertua sang jendral datang dari kampung dan bunga yang dia pesan adalah bunga-bunga termahal" sambung nya. 

Saya betul-betul shock dan sedih, disaat masih banyak penduduk Jakarta yang tinggal berdinding kardus, justru sang Jenderal menghabiskan duit 90 juta hanya untuk bunga hiasan makan malam nya. Ketika saya melihat foto-foto dibawah ini saya tersenyum, saya teringat percakapan di taksi kala itu, dan ternyata si supir taksi itu tidak membohongi saya.

#GanyangKoruptor #SaveKPK

Foto ini milik Fanspage Facebook DR. Abraham Samad SH. MH