Thursday, 2 April 2015

Ketika (Bahasa) Indonesia ditertawakan Malaysia

Jangan terkaget dulu dengan judul tulisan yang berbau provokatif ini, sejatinya pembaca akan paham jika melanjutkan membacanya hingga akhir.

Peristiwa ini terjadi ketika saya travelling ke Kuala Lumpur, ketika itu saya sedang mengantri di konter pembelian tiket kereta api KLIA, Ini adalah kali kedua saya mengunjungi Kuala Lumpur. Karena di kunjungan pertama saya sudah mencoba naik bus ke pusat kota Kuala Lumpur, maka dikunjungan kedua ini saya ingin merasakan naik kereta api KLIA Express. Walaupun harganya berbeda signifikan dengan naik bus, namun keinginan mencoba pengalaman baru menggoyahkan iman akuntansi saya.

Ketika giliran saya untuk membeli tiket saya mendekat ke petugas konternya:

Saya: "Saya mau beli tiket satu, Please"
Penjaga Konter: "mau yang Express atau yang Transit ke?"
Saya: "Beda harga kah?"
Penjaga Konter: "Same je"
Saya: "Saya ambil yang KLIA Express je lah"
Penjaga Konter: *cekikikan dengan teman sebelahnya*

Saya heran kenapa mereka cekikikan ya? apa ada yang salah dengan saya?, dia terlihat benar-benar geli, begitu juga teman nya. Saya berusaha positive thinking saja, mungkin saya berhasil menghibur mereka dengan kelucuan yang belum saya sadari.

foto ilustrasi, sumber: http://sidomi.com/166000/hyorin-sistar-menyukai-pria-berotot/


Lalu dia mengulang kalimat saya "KLIA (baca: Ka eL Ai Ee) Express ?" sambil menahan tawa lagi. Disitulah saya mengerti kenapa mereka ketawa, ternyata saya melafalkan nya salah, ejaan English yang benar adalah (Ki eL Ai Ee), saya tersenyum juga menyadari kesalahan saya, lalu lama-lama saya jengah juga karena si petugas tiket masih saja menahan tawa hingga dia menyerahkan tiket kereta ke saya.

Saya hanya bisa bersabar, melihat tampang nya mereka masih muda belia, mungkin baru tamat sekolah, jika mereka sudah tua seharusnya mereka tidak berlaku seperti itu, karena bagaimanapun petugas transportasi di bandara adalah cermin wajah bangsa Malaysia, tidak sopan sekali mereka mentertawakan turis asal Indonesia, tapi ya sudahlah, orang waras emang selalu ngalah, :)

Dua tahun kemudian saya diberi kesempatan untuk tinggal di Belanda, karena saya akan tinggal dalam waktu empat tahun, maka belajar Bahasa Belanda adalah suatu ritual yang harus saya jalani setiap hari selama satu jam. Saya belajar bahasa Belanda melalui video Youtube. Ketika saya mengeja kata K maka pelafalannya adalah Ka.



Aha...saya jadi teringat peristiwa di konter KLIA dua tahun tahun yang lalu, masa dimana Indonesia ditertawakan Malaysia. Sekarang saya paham kenapa di sekolah Indonesia pelafalan K adalah Ka bukan Ki, kerena Indonesia sudah ratusan tahun dijajah Belanda. Jika petugas konter itu membaca tulisan ini harusnya mereka tidak mentertawakan lagi turis asal Indonesia yang melafalkan Ka El Ai Ee.

Belanda, 2 April 2015, 15:00 CEST


Related Post: