Monday, 25 May 2015

Rotterdam: Kota Besar yang Cepat Sekali Lengang

Saat itu pukul 9:00 malam saya dan rombongan tur baru saja sampai di hotel setelah lelah berkeliling ke beberapa tujuan wisata di Amsterdam dan Volendam, Perut saya terasa lapar, sebenarnya saya bisa saja menahannya hingga pagi namun yang menguatkan saya untuk keluar hotel adalah karena di hotel tidak disediakan gosok gigi dan pastanya, bagaimana saya bisa tidur tanpa menggosok gigi terlebih dahulu.

Saya mulai mencari supermarket atau swalayan disekitar hotel terlebih dahulu, karena saya sadar saya lagi di kota besar pasti banyak supermarket disekitar sini, namun sudah berjalan sekitar 800 meter disekitar jalan Willemskade saya belum juga menemukan supermarket, hingga saya melihat secercah harapan ketika melihat dari kejauhan lambang Albert Heijn, Salah satu jaringan supermarket yang terkenal di Belanda.

Saya pun bergegas menuju bangunan itu, langkah kaki saya percepat karena takut mereka akan tutup, dan ketika saya tiba di bagian depan supermarket, saya kembali putus harapan ternyata Albert Heijn di kota sebesar Rotterdam ini cuma buka hingga jam 8 malam, How Come? Kok Iso? mana jam segini masih terang benderang, lalu dari tempat saya berdiri saya melihat logo salah satu makan cepat saji, saya pun bergegas menuju kesana dan Taraaa.., mereka pun sudah tutup, di depan pintu terlihat kalo mereka cuma buka hingga jam 8 malam. Saya kembali bertanya kok bisa ya? Rotterdam ini kan kota kedua terbesar di Belanda dari segi jumlah penduduk, dan Rotterdam adalah pusat bisnisnya negara Belanda bahkan merupakan pintu gerbang Eropa karena di kota ini terdapat pelabuhan terbesar di Eropa. Saya kembali pulang dengan langkah gontai melewati arah yang lain berharap bertemu tempat makan ternyata hanya menemukan deretan bar yang pengunjungnya sudah mulai ramai, saya mencoba mendekat berharap ketemu makanan ternyata tetap tidak ada, bar disini hanya menyediakan minuman.

Rotterdam Kota Bisnisnya Belanda

Saya masih bertanya-tanya kok bisa ya? padahal saya sedang di Rotterdam, lalu saya mulai membandingkan dengan kota kecil tempat saya lahir dan dibesarkan, di Pariaman bahkan saya masih bisa menemukan swalayan yang buka hingga jam 11 malam. Namun saya baru sadar ternyata saya membandingkannya tidak apple to apple, atau membandingkan dua daerah yang sangat jauh berbeda, ada banyak faktor tentunya yang membuat sang pengusaha swalayan dan restoran disini tidak buka hingga jam 10 malam, salah satunya adalah UMR yang cukup mahal di Belanda. atau mungkin warga Belanda tidak biasa makan malam di luar, atau mungkin saja mereka tidak suka makananan cepat saji. Beberapa hasil analisa singkat saya yang perlu segera mendapatkan jawaban yang benar. Saya memang baru tinggal 8 bulan di Belanda semoga beberapa tahun kedepan saya bisa mengenal kebiasaan konsumen di Belanda.