Sunday, 5 July 2015

A Journey: Nijmegen-Roermond dengan Kereta Veolia

Perjalanan dari Nijmegen ke Roermond saya lewati dengan menggunakan Kereta Veolia. Sebenarnya ini kali kedua saya naik Kereta Veolia, namun karena waktu itu saya travelling dengan anak yang masih berusia 2 tahun, saya tidak terlalu memperhatikan dengan seksama kereta ini. Kereta Veolia adalah moda transport yang ada di regional Limburg, jadi selain mengoperasikan bus, Veolia juga mengoperasikan moda transportasi kereta yang
menghubungkan kota-kota di dalam Propinsi Limburg dan propinsi tetangga.

Dilihat dari penampakannya kereta yang saya naiki masih baru, ini terlihat dari cat dan kursi nya yang masih kinclong. bangku-bangkunya berwarna merah menyala, sempat ragu duduk di bangku merah karena biasanya di Kereta Api Intercity bangku merah adalah tempat duduk untuk kelas 1, namun setelah menyusuri dua gerbong kereta saya tidak menemukan bangku selain warna merah, saya memutuskan saja duduk di salah satu bangku yang kosong. sembari memperhatikan juga pengumuman di dinding gerbongnya barangkali ada informasi mengenai gerbong kelas yang saya duduki ini, ternyata tidak saya temukan. 

Jadilah saya dengan mantapnya duduk dibangku ini. Seandainya ada pemeriksaan dan ternyata saya emang salah duduk di kelas satu saya hanya akan bilang "I am sorry, I did not  know because i can not find any information about class of this train", apalagi wajah saya foreigner, palingan mereka akan memaafkan seperti dulu awal-awal saya tinggal di Belanda, pernah salah duduk di kelas 1, pernah salah jurusan kereta, dan pernah salah beli tiket di mesin, namun karena berwajah asing, mereka memaafkan, ternyata orang Belanda tidak sejahat yang saya pikirkan.

Pluit panjang pun ditiup, itu artinya pintu kereta harus segera ditutup, ada beberapa orang yang ketinggalan, mereka hanya bisa menatap kecewa pada rangkaian kereta yang sudah mulai bergerak. Di dalam kereta masih banyak bangku yang kosong, mungkin karena saya berangkatnya dari stasiun pertama, jadi ada beberapa stasiun perhentian lagi yang harus dilewati untuk tiba di stasiun akhir Roermond.

Goyangan diatas kereta mulai terasa itu menandakan kereta sudah mulai meningkatkan kecepatanya, ternyata soal goyangannya Kereta Intercity lebih minimalis dibanding Kereta Veolia, sehingga dalam kecepatan tinggi pun goyangannya tidak terlalu signifikan padahal Intercity itu double decker lo. Selain masalah goyangan, Kereta Veolia juga sedikit lebih berisik dibanding Kereta Intercity, ketika kecepatan mulai naik suara mesin nya terdengar cukup keras hingga ke ruangan.

Kereta Veolia, sumber: wikipedia


Di sebelah saya duduk seorang anak perempuan, sepertinya dia berdua dengan temannya yang duduk persis di depan si anak. Sepertinya mereka pelajar kelas 5 atau 6 Sekolah Dasar, mereka nampak serius mempelajari buku catatan, sesekali si teman ini menguji teman lainnya, dan temannya itu menjawab pertanyaan dengan mimik wajah khas orang Belanda yang sangat ekspresif, akan gampang terlihat kapan dia merasa tidak yakin dengan jawabannya. wah saya jadi rindu saat-saat sekolah dulu.

Di Stasiun berikutnya masuk lagi beberapa rombongan anak sekolah sebaya anak yang duduk di samping saya, rombongan itu anak laki-laki, anak perempuan disebelah saya mencuri-curi pandang melihat ke rombongan yang baru masuk, mereka berbisik dan ketawa cekikikan, kemungkinan si anak memberitahu tahu temannya bahwa ada rombongan pria ganteng yang datang. Hmm saya juga rindu masa-masa ngecengin cewek-cewek cantik ketika sedang ngumpul sama teman-teman di Pantai Pariaman.

Tiba di stasiun berikutnya dua anak perempuan -yang dari tadi saya perhatikan- turun, tempat duduknya digantikan oleh rombongan yang baru datang, anak sekolah cowok yang saya perkirakan duduk di bangku SMP, mereka ada empat orang, dimenit-menit pertama mereka datang, saya sudah merasakan bau yang tidak enak, tapi ini bukanlah bau kotoran angin melainkan bau busuk yang melekat pada pakaian, saya memperhatikan 4 orang di depan dan disebelah saya, langsung saja saya menangkap sumber bau tersebut, tersangkanya persis disebelah saya, sepertinya anak ini sudah tidak mandi dari semalam itu terlihat dari bajunya yang kotor dan rambutnya yang sedikit kusut, perkiraan saya si anak tidur di luar karena baunya menyengat sekali. namun saya tidak menutup hidung khawatir dia tersinggung. Saya memperhatikan ekspresi teman-teman mereka, karena penasaran dan ingin tahu apakah mereka juga merasa terganggu dengan bau temannya ini?. Ternyata ekspresi wajah mereka anteng-anteng saja, apa karena dia sudah kelamaan bersama temannya atau karena memang angin yang hanya berhembus ke arah saya, karena kok cuma saya saja yang terganggu dengan bau busuk ini.

Saya hampir sesak menahan nafas, saya seperti baru menyadari bahwa udara segar itu adalah nikmat tuhan yang paling berharga saat ini, seandainya Tuhan menjualnya saya mau beli untuk beberapa waktu menjelang si tersangka ini turun dari kereta tapi apakah saya sanggup membelinya?, bagaimana jika tuhan menjualnya 1 juta dolar amerika sekali tarik nafas?, saya menarik nafas lagi kali ini lebih dalam dan melepaskan nafas itu sambil bersyukur kerena Tuhan Maha Pemurah. Saya melempar pandangan keluar jendela khawatir ekspresi saya tertangkap teman-temannya. Pemandangan di luar jendela sangat indah. hamparan padang rumput hijau dengan sapi dan biri-biri mampu membuat pikiran saya melupakan bau busuk dari penumpang di sebelah, meskipun sesekali bau itu tetap memelintir bulu hidung saya hingga keriting. saya hanya bisa berdoa semoga si tersangka ini lekas turun.

Alhamdulillah doa saya di ijabah, dan benar saja ketika si tersangka turun perlahan-lahan bau itu lenyap, masih ada beberapa stasiun lagi untuk sampai di Roermond, saya masih asyik menatap pemandangan di luar jendela, kali ini hamparan padang rumput luas berubah menjadi hamparan tanaman seperti padi, apa mungkin ini tanaman gandum?. Saya tidak bisa memastikan karena memang saya sendiri belum pernah melihat gandum. Pertanian di Belanda memang dalam skala besar, tanaman yang seragam pun terhampar sejauh mata memandang, di tengah hamparan tanaman gandum itu juga terlihat "burung-burungan" besar, seperti burung elang yang di pasang untuk mengusir burung-burung kecil. Saya suka rumah pertanian di Belanda, rumahnya unik dengan atap yang terbuat dari daun jerami, hingga saya pun bermimpi membuat rumah yang sama saat nanti di Indonesia.

Keasyikan memandang keluar jendela ternyata KA Veolia sudah akan berhenti di stasiun terakhir Roermond. Roermond sendiri adalah sebuah kota kecil di Propinsi Limburg yang terkenal dengan Designer Outletnya, sehingga daerah ini merupakan tempat favorit mereka yang Shopaholic. Saya datang ke Roermond bukan untuk belanja melainkan akan memikul tanggung jawab sebagai guide yang akan memandu wisatawan belanja :)

Related Post:
- Bagaimana Cara naik Kereta di Belanda
- Koln, Romatisme Jembatan Cinta Berlatar Katedral Roma
- Tips Hemat Keliling Amsterdam